Kamis, Desember 13Website Resmi DPRD Kota Bandung

Menghilang Selama 6 Bulan, Atlet PON Diculik Aliran Radikal

DPRD KOTA BANDUNGCARI KEBERADAAN FIDYA Ketua KPAID Kota Bandung Andri M. Saftari (kiri), Kami Hindarto dan Khodijah Dede Indriany, orangtua atlet taekwondo PON Jabar Fidya Kamalindah, korban penculikan bersama Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung Achmad Nugraha dan anggota komisi D Wili Kuswandi usai mengadukan nasibnya, kemarin (124).


Modus penculikan berkedok pendalaman pemahaman agama, menimpa altet Taekwondo Pekan Olahraga Nasional (PON) asal Jawa Barat, Fidya Kamalindah, 20. Peristiwa menghilangnya anak gadis itu, terjadi sejak  November 2015 hingga sekarang gadis malang itu belum pulang ke rumah orang tuanya.

Dengan didampingi Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bandung Andri Muhammad Saftari, orang tua korban Kami Hindarto dan Khodijah Dede Indriany  warga Jalan Riung Permai 2 H Nomor 346 RT/RW 11/09  Komplek Riung Bandung,  Kelurahan Cipamokolan Kecamatan Rancasari, mengadukan nasibnya ke DewanPerwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung, kemarin sore (12/4).

Di hadapan Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung Ahmad Nugraha, yang didampingi anggota Komisi D Wili Kuswandi, orang tua korban Hindarto bersama istrinya Khodijah menceritakan kronologis kejadian.

Dia menuturkan, terjadi perubahan prilaku anak gadisnya sejak  minta ijin melaksanakan itikaf (17/9/2015) di Jalan Subang, Komplek Antapani. ”Kami, melarang, sebab kegiatan itu dilaksanakan malam hari tanpa alasan yang jelas,” kata Hindarto kemarin.

Dia mengatakan, setelah itikaf tersebut Fidya kemudian berubah drastis. Yang asalnya periang, tiba-tiba jadi pendiam dan berbusana yang menutupi seluruh anggota tubuhnya. ”Itu membuat kami was-was dan curiga,” kata Hindarto.

Hingga akhirnya terjadi peristiwa yang tak diinginkan. Pada 26 November 2015, Fidya pergi dari rumah dengan berjalan kaki. Namun, di depan warnet Jalan Cipamokolan ada yang jemput paksa. ”Kabar itu kami peroleh dari saksi mata,” ujar Khodijah.

Dia mengatakan, hingga larut malam anaknya itu belum kembali. Setelah peristiwa jemput paksa itu, lanjut Ibu dua anak ini, mereka memeriksa barang-barang berharganya. Ternyata, semua tidak ada dalam lemari, termasuk surat-surat berharganya.

”Yang kami temukan ada sepucuk surat bernada ancaman. Maka, kamipun melaporkan peritiwa tersebut ke Polrestabes Bandung. Salah satu isi laporan kami, Fidya dipaksa untuk pindah aqidah,” tuturnya.

Tak disangka-sangka pada 3 Desember 2016, HP Fidya, tersambung. Tetapi, kata dia, yang mengangkat telepon bukan Fidya, melainkan, lelaki yang menculik dan mengaku bernama R. Yuri Junjunan. ”Dia (Yuri) berjanji akan mengembalikan anak kami. Namun, tidak kunjung nyata. Malah menantang, laporkan saja ke polisi,” tukas Khodijah.

Pada 20 Desember 2015 malam, Fidya diketahui mengontak orangtuanya. Isinya, meminta mereka tidak mencarinya sebab sedang melaksankan Tafidz Quran di Asrama Putri Cicaheum.

Khodijah mengatakan, pada 6 Februari 2016, pelaku penculikan tertangkap masa dan diserahkan ke Polda Jawa Barat. ”Oleh pihak Polda, Fidya dan Yuri disuruh pulang ke rumah kami, namun tidak kunjung dating,” ujarnya.

Atas imbauan Polda tersebut, Khodijah mengaku, heran. Sebab, Polda melepaskan pelaku penculikan. ”Ternyata mereka tanpa izin kami sudah menikah pada 5 Desember 2015 dan memiliki akta nikah yang tercatat di KUA Kota Bekasi tertanggal 23 Desember 2015,” paparnya.

”Kami orang tua tidak pernah memberi restu mereka menikah. Dan setelah ditelusuri, surat nikah itu palsu. Kami dan keluarga ingin mencari keadilan anak kembali ke orang tua, serta pelaku diadili,” tegas Hindarto sambil menambahkan, juga sudah melaporkan hal tersebut di Polda Metrojaya pada Februari lalu.

Menyikapi peristiwa itu, Ketua Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bandung Andri Muhammad Saftari menyatakan, fenomena ini bukan persoalan baru. Mudus itu, mengindikasikan masuk aliran sesat dan menipu orang lugu mengikuti ajakan dan masuk dalam lingkaran kelompok tertentu .

Maka, pihak polisi harus berperan aktif optimal bertindak. Sebab ini ada indikasi pemalsuan dan penyimpangan agama.

”Polisi sudah tahu tempat orang  itu berliaran dan sesat, sehingga orang tua harus lebih hati-hati perhatikan anaknya dari ajakan orang tak dikenal,” tukas Andri.

Dari perkara ini, sahut Andri, pihaknya akan merekomendasikan dan mendampingi orang tua korban untuk meminta bantuan institusi yang lebih berhak. ”Bukan tidak mungkin ada Fidya-Fidya lain yang jadi korban,” sebut Andri.

Sementara itu, Komisi D Ahmad Nugraha mengimbau, orang tua lebih waspada dengan modus rayuan yang berbuntut aliran radikal. Begitu juga kepolisian. Begi dia, aparat kepolisian perlu mengusut tuntas.

”Ini motif menikahi tanpa izin dan wali. Lalu  anak harus melupakan orangtua. Intinya, ini kejahatan terencana berkedok agama,” tandas politikus PDI Perjuangan ini.

Menurut dia, Dinas Sosial Kota Bandung harus melakukan koordinasi dengan aparat Kepolisian. Sedangkan, kepada kepada aparat  kewilayahan Dinsos harus menyampaikan gerakan organisasi ini masif bekerja dengan mencari korban anak-anak gadis . ”Saya tidak spekulasi ajaran sesat dan radika ini ada,” tegas Achmad.

Bertindak lebih waspada, jelas Ahmad, merupakan tindakan pencegahan. Para pelaku itu harus diburu dan ditangkap karena sudah meresahkan masyarakat.

”Doktrin yang diberikan para penjahat ini tidak terlihat. Sebab, korban tidak berlama-lama berbaur di luar. Anak ini didekati sesuai hobinya. Sangat cerdik dan ada kemungkinan keinginan korban dipenuhi. Akhirnya, tertipu dan setelah jadi korban dibiarkan telantar,” pungkas Achmad. (edy/rie)

 

Sumber : http://bandungekspres.co.id/