Ketua Dewan Berdialog dengan Warga Soal Akses Tol KM 149 Gedebage

Editor DPRD Bandung
Selasa, 25 Januari 2022
Ariel/Humpro DPRD Kota Bandung.
Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan meninjau proyek akses Tol KM 149, di Kecamatan Gedebage, Selasa (25/1/2022).

HumasDPRD - Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan menemui warga Kecamatan Gedebage yang mengeluhkan kepastian proyek akses tol KM 149, di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Selasa (25/1/2022).

Kepada Tedy, Ketua Forum Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Ahmad Rasidin, mengungkapkan kegelisahan warga terkait rencana pembukaan akses Tol KM 149.

Warga khawatir dibukanya akses Tol KM 149 Padaleunyi yang bertitik di kawasan Gedebage bakal memperparah kemacetan yang kerap terjadi di Jalan Gedebage Selatan. Penolakan warga ini dituangkan melalui sebaran baliho di sekitar jalan tersebut.

“Kalau pintu perlintasan kereta tutup, tambah macet. Intinya, warga yang terlintasi khawatir nanti kalau akses tol dibuka akan tambah macet lebih-lebih dari sekarang,” ujar Rasidin, saat ditemui di Jalan Gedebage Selatan, Selasa (25/1/2022).

Meski begitu, ia memastikan bahwa warga selalu mendukung pembangunan di kawasan tersebut, termasuk dibukanya akses Tol KM 149.

Namun, mereka meminta kepastian agar Jalan Gedebage Selatan sudah ditambah kapasitas tampungan kendaraan dengan melebarkan badan jalan, sebelum dibukanya akses tol itu.

“Kami mah selalu mendukung. Tetapi kalau mau dibuka, lebarkan dulu jalannya,” katanya.

Warga khawatir dengan dibukanya akses Tol KM 149 tetapi jalan tidak diperlebar malah akan menambah volume kendaraan yang melintas.

Selain kendaraan dari luar kota di akhir pekan, penambahan kendaraan pengguna akses Tol KM 149 diprediksi berasal dari warga Bandung timur yang selama ini hanya memiliki pilihan untuk keluar akses Tol Padaleunyi dari pintu Tol Buahbatu.

Selama ini, Jalan Gedebage Selatan seakan tidak mengenal lancar. Kemacetan tidak hanya terjadi di jam sibuk saat pagi dan sore hari saja, tetapi juga siang hari.

Kemacetan di Jalan Gedebage Selatan juga dipengaruhi oleh buka-tutup pintu perlintasan kereta. Saat kereta melintas, ekor kemacetan kendaraan dari kedua arah bisa mencapai 500 meter.

Jalan Gedebage Selatan menjadi jalur penghubung krusial yang menjadi lalu lintas alternatif antara Kota Bandung menuju Kabupaten Bandung via Jalan Raya Sapan, yang tersambung jembatan pelintas Tol Padaleunyi.  

Kepadatan semakin menjadi karena jalan dengan panjang sekitar 3,5 kilometer itu melintasi pabrik-pabrik karena menjadi salah satu kawasan industri. Alhasil, truk-truk bertonase besar dengan kecepatan rendah turut menambah antrean kendaraan di tengah kemacetan.

Manuver truk besar ini juga cukup sulit dengan kondisi jalan yang hanya memiliki rata-rata lebar sekitar 6,5 meter.

Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan menuturkan, kehadirannya di tengah warga itu untuk menindaklanjuti aspirasi warga karena tersebar spanduk terkait dengan penolakan akses Tol KM 149.

“Memang jika dilihat di lapangan, tanpa dibukanya akses tol terlihat macet. Perlintasan rel kereta api ditutup juga menambah padat. Jadi memang harus dicari solusi segera,” katanya.

Lebar jalan di kawasan tersebut dinilai belum layak jika melihat kebutuhan di sekitarnya yang harus menjadi jalur menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), kawasan industri, hingga penghubung Kabupaten Bandung.

Populasi penduduk di timur Bandung juga harus diperhitungkan karena pembangunan perumahan dari waktu ke waktu berkembang cepat. Tanpa jalan yang dilebarkan, lalu lintas kendaraan akan bertambah semrawut.

Warga, terutama yang di daerah RW 05, 03, 06, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage tentu sangat merasakan imbas kemacetan.

Tedy mengatakan, aspirasi adanya pelebaran jalan ini yang harus ditindaklanjuti.

“Kita mendorong, ketika ada sebuah kebijakan segera sosialisasikan. Masyarakat ini belum dapat informasi terkait pembukaan akses tol KM 149. Pemerintah harus segera menyelesaikan permasalahan yang ada di Gedebage, karena di sini banyak kewenangan kota, provinsi, atau pusat, termasuk untuk masalah jalan ini,” ujarnya.

Camat Gedebage Jaenudin mengatakan, aspirasi warga ini muncul mengharapkan permasalahan di lapangan diselesaikan terlebih dahulu sebelum akses tol dibuka.

“Kita akan memfasilitasi aspirasi warga dengan pihak terkait, dan mencarikan solusi terbaik. Tetapi yang jelas semua masyarakat mendukung kegiatan pembangunan, termasuk askes tol. Cuma warga berharap tidak berdampak kemacetan baru,” katanya.* (Editor/Permana)


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR