RS dan Nakes Makin Sibuk Tangani Covid-19, Publik Diminta Terapkan Prokes Ketat

Editor DPRD Bandung
Selasa, 22 Juni 2021
Indra/Humpro DPRD Kota Bandung.
Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan meninjau Rumah Sakit COVID-19 Darurat Secapa AD, di Hegarmanah, Bandung, Selasa (22/6/2021).

HumasDPRD - Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan meninjau Rumah Sakit Covid-19 Darurat Secapa AD, di Hegarmanah, dan UPT Pelayanan Keselamatan Terpadu Kota Bandung, Selasa (22/6/2021).

Peninjauan itu dilakukan untuk meningkatkan koordinasi dalam upaya menekan angka kenaikan kasus Covid-19 di Kota Bandung. Dari kunjungan ke dua lokasi tersebut, diketahui kesibukan tenaga kesehatan terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Dari Secapa AD, Tedy mendapat informasi bahwa keterisian bed di barak isolasi pasien Covid-19 telah mengalami peningkatan, terhitung semenjak Hari Raya Idulfitri.

Dari kapasitas sekitar 180 pasien, Rumah Sakit Covid-19 Darurat Secapa AD sempat dipenuhi hingga 156 pasien, belum lama ini. Kini, barak isolasi yang terisi 122 pasien akan kembali padat.

Berdasarkan komunikasi dengan rumah sakit sekitar Kota Bandung dan institusi kesehatan lainnya, segera akan masuk 46 pasien Covid-19 baru.

Rumah Sakit Covid-19 Darurat Secapa AD memang khusus menangani pasien Covid-19 dengan gejala ringan. Akan tetapi, keberadaannya sangat membantu mengurangi beban rumah sakit yang saat ini cukup kewalahan menangani banyak pasien, terutama pasien Covid-19 yang membutuhkan penanganan khusus.  

Dalam pertemuan bersama sejumlah tenaga kesehatan dari TNI AD itu, Tedy menyampaikan rasa terima kasihnya atas kontribusinya selama menangani pasien Covid-19. Ia pun berharap angka Covid-19 berangsur sirna.

Tedy memohon kepada warga Kota Bandung untuk selalu menaati protokol kesehatan. Jika memungkinkan, sebaiknya membatasi kegiatan dan berdiam diri di rumah.

“Kondisinya seakan mengarah ke zona merah. Butuh bantuan dari masyarakat supaya prokes betul-betul dijaga. Jika tidak ada kegiatan urgent, lebih baik di rumah saja,” tuturnya.

Kesibukan tenaga kesehatan dan mobilitas ambulans juga semakin terasa dalam beberapa hari terakhir. Hal itu ditemukan saat Tedy meninjau UPT Keselamatan Terpadu Kota Bandung, atau yang biasa dikenal dengan layanan 119 Bandung Emergency Center.

Markas mobil ambulans dan motor Layad Rawat milik Pemkot Bandung di kawasan Cihampelas ini terpantau sibuk menerima panggilan masuk dari masyarakat yang membutuhkan layanan medis dan kegawatdaruratan.

“Di 119 ini terdapat peningkatan permintaan layanan di tengah kondisi pandemi. Kami di dewan akan mengusulkan penambahan SDM 119 supaya jangkauan pelayanan makin terfasilitasi,” ujar Tedy.

Saat ini layanan 119 memiliki 10 mobil ambulans, 2 mobil jenazah, 4 motor ambulans, dengan kesiapan 10 pengemudi. Biasanya, panggilan darurat yang mereka terima per hari hanya berkisar 10 hingga paling banyak 20 telepon.

Akan tetapi, dalam lima hari terakhir laporan kegawatdaruratan mencapai rata-rata 110 panggilan per hari.

Sedangkan mobil ambulans hanya mampu menangani sekitar 10 pasien Covid-19 per hari. Rata-rata layanan menghabiskan waktu 2-3 jam per pasien.  

Hal itu disebabkan situasi penanganan di lapangan yang beragam dan tak sekadar jemput-antar. Terdapat perbedaan waktu layanan berdasarkan kondisi pasien, jarak dan kondisi tempat tinggal pasien, situasi lalu lintas, hingga koordinasi dengan rumah sakit.

Maka, ambulans akan memprioritaskan layanan ambulans bagi panggilan dengan status merah. Adapun panggilan layanan yang bisa ditangani nakes diterapkan prosedur Layad Rawat, dengan menuntaskan layanan medis di lokasi panggilan. Dengan begitu, angka rujukan ke rumah sakit yang tengah disibukkan pasien dengan tindakan khusus bisa ditekan.

Tedy meminta masyarakat untuk memahami beban kerja dari sistem layanan 119 ini. “Warga dimohon kesadarannya. Layanan 119 ini akan terus memberikan arahan, dengan mengurangi kebergantungan pada rumah sakit. Jadi, jika memang bisa ditangani di rumah oleh 119, tak perlu ke rumah sakit,” ujarnya.

Dari kunjungan itu, Tedy meminta Pemkot Bandung untuk kembali mencari lokasi calon ruang isolasi untuk mengantisipasi jika terjadi penambahan kasus Covid-19. Pihak kecamatan diharapkan memiliki tempat isoman masing untuk mempercepat penanganan warga terpapar Covid-19 di kewilayahan masing-masing.

“Beberapa sudah menyiapkan. Ada rumah dinas camat Gedebage yang dijadikan ruang isoman. Ada juga bantuan swasta. Ini harus terus diupayakan. Semua sedang berjuang. Hindari hoaks. Bangun kesadaran adanya Covid-19 dan jangan panik,” tutur Tedy.*


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR